[FANFICTION – Oneshoot] My Memory, My Story, With My Love….

Title: My Memory, My Story, with My Love…

Author: Dezilo

Main cast: Siwon, Hye Han

Genre: tentukan sendiri aja. Maybe family

———————————————————————————————————————————-

jja… Annyeonghasseo…. Author datang dengan FF oneshoot baru. Baru kali ini juga author nulis FF dengan cast Siwon. Di cerita ini sih author lebih ingin menonjolkan sosok seorang Siwon yang baik hati… kurang lebih begitu. Untuk typo2 yg tidak disengaja, author minta maaf. Untuk cerita yang alurnya gaje dan pas-pasan, author jg minta maaf. Author bukanlah seorang penulis handal, author hanyalah seorang manusia yg gemar membuat fiction story sesuai pikiran sendiri tanpa meng-copas cerita orang, dan author tahu pasti ini fanfict banyak kekurangannya… Apapun itu, tapi terimalah niat tulus author, yaitu untuk menghibur kalian semua… *bow😀

Happy reading… Don’t forget to leave just ‘short comment’ to make me feel better… :’)

========================================================================
========================================================================

 

~~Korea, 06.00 KST~~

Winter….

.
.
.

Pagi ini seperti biasa aku bangun cepat karena harus mempersiapkan banyak hal. Sarapan, ini itu, dan sebagainya. Sebagai pria kantoran yang bekerja setiap senin sampai sabtu sejak lama, sejak aku mulai menjadi seorang karyawan di satu perusahaan swasta kecil, bangun pagi bukanlah masalah lagi bagiku. Bahkan bangun pagi rasanya sudah jadi salah satu rutinitas yang tidak bisa kutolak lagi. Bangun pagi-pagi sekali merupakan refleks tubuhku karena menganggap kegiatan itu sebagai suatu kebiasaan.

 

Aku mulai mengerjakan rutinitas pagiku, memasak sarapan sambil mendengarkan siaran radio favoritku yang setiap pagi pasti memutarkan musik klasik ataupun musik jazz, genre musik yang sejak kecil sudah kuminati. Sambil menunggu semuanya matang, kuseduhkan cappuchino dalam 2 gelas kecil yang bertuliskan ‘coffee’ . Aroma cappuchino segera menyeruak ke rongga penciumanku saat aku mengaduk minuman itu. Pagi hari di musim salju seperti ini sangat tepat diisi dengan menikmati secangkir kopi. Tapi…kenapa aku justru menyeduh 2 cangkir?

 

Pertanyaan bagus. Tentu saja aku minum tidak sendirian. Aku selalu minum kopi bersama istriku. Istri yang sudah lama menjadi pendamping hidupku dan sudah lama menjadi kekasihku, bahkan sudah menjadi kekasihku ketika aku masih menjadi laki-laki pecundang yang hanya bisa menggerogoti uang orang tua demi hura-hura dan berfoya-foya bersama teman satu klubku. Haha, sepertinya sikap berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang orang tua sudah lazim dilakukan oleh setiap anak milyuner di bumi ini. Ini seperti sebuah budaya turun temurun yang masih dilestarikan sebagai suatu tradisi. Tapi aku bukanlah pria seperti itu lagi. Aku sudah menjadi pria yang, yah kurasa sudah lebih baik daripada dulu. Aku sudah bisa mencari uang sendiri, aku sudah bisa membeli rumah kecil ini dengan uang hasil jerih payahku, dan aku sudah bisa menghidupi diriku bersama istriku dengan gaji standar yang kumiliki. Kebanggaan tersendiri rasanya jika bisa memperoleh beberapa barang dengan uang hasil kerja keras sendiri. Rasanya hidup lebih berguna.

Oh, tentang istriku, dia adalah sosok wanita yang penuh perhatian, sangat mencintaiku, sangat kucintai, dan sangat baik. Dia benar-benar baik. Tapi orang-orang banyak yang tidak suka padanya. Aku masih ingat bagaimana cemoohan orang-orang itu padaku ketika aku mengabarkan bahwa aku akan menikahinya.

 

[FLASHBACK ON]
“Kau gila? Kenapa harus dengannya?”


“Kau tampan Siwon-ah. Kau kaya. Kau anak orang hebat di negeri ini. Kau bisa mendapatkan wanita yang seribu kali lipat lebih baik daripada wanita itu.”

“Apa kau dicuci otak olehnya? Sejak kapan kau jadi seorang laki-laki pencinta perempuan dengan tipe seperti itu?”

“Kau aneh”

“Bodoh”
[FLASHBACK OFF]

 

Bla bla bla. Mereka menghinaku dan menghina wanita yang saat itu masih berstatus sebagai calon istriku. Tapi aku tetap bersikeras dan tidak mengentikan niatku untuk menikahinya.

[FLASHBACK on]
“Jangan pernah kembali ke rumah ini! Mulai sekarang, kau bukan putra kami, semua uang, rekening-rekening bank, trasportasi, rumah, semuanya, akan kami tarik dan tidak akan kami berikan padamu! Kau memilih hidupmu seperti itu, jadi nikmatilah hidup menjadi pria sampah!”
[flashback off]

 

Selesai. Mereka mendepakku dan tidak menganggapku anak karena aku justru lebih memilih hidup miskin bersama yeojaku, daripada tetap memiliki harta itu. Dengan pasti aku segera berdiri, membungkuk sebagai ucapan terima kasih ke arah kedua orangtuaku yang sejak dulu sudah merawatku meski tanpa kasih sayang layaknya orang tua lainnya, kemudian aku bergegas pergi keluar rumah tanpa membawa satu barangpun. Ah, aku salah. Aku bawa sesuatu, yaitu pakaian yang kupakai saat itu. Hehe…

Mungkin kalian bertanya, bagaimana bisa seorang Siwon begitu memperjuangkan seorang yeoja. Apa istimewanya yeoja itu. Aku tahu pasti banyak yang bertanya-tanya akan hal itu karena pertanyaan itu memang sering menghampiriku.

Yeoja ini, ah… Aku susah mendeskripsikannya. Dia adalah wanita yang sangat istimewa. Dia adalah wanita yang telah berhasil merubah pribadiku menjadi seperti sekarang, menjadi namja yang lebih bertanggung jawab dan berguna. Dia selalu setia padaku meski betapa buruk diriku saat itu. Yeoja ini membuatku ketergantungan. Ini gila! Bayangkan, bagaimana bisa seorang Siwon yang terkenal angkuh dan jahat bisa takluk dihadapan seorang yeoja biasa.

Bagaimana bisa seorang yeoja baik seperti dia menyukaiku? Dia adalah wanita yang sangat baik, taat beragama, sopan, lembut, pemaaf, sabar, dewasa, keibuan, semuanya. Dia adalah wanita yang sangat bertolak belakang denganku. Semua orang juga tahu, bahwa yeoja-yeoja seperti dia pasti sangat anti dengan seorang namja berandalan dan urakan seperti aku, bukan? Tapi, ini beda. Dia justru mencintaiku, bertahan bersamaku dengan segala kekuranganku, dan percaya padaku. Aku pernah bertanya padanya, kenapa dia menyukaiku, kenapa dia bertahan pada seorang namja berandalan sepertiku.

.

.

“Kenapa? Aku juga tidak tahu…” ia mengangkat bahunya sambil menggeleng.
“Tidak mungkin kau tidak tahu. Ayolah Hye Han, katakan sesuatu…” ucapku padanya sambil menatapnya. Dia hanya tersenyum.
“Aku benar-benar tidak tahu, Siwon ah… Aku mencintaimu ya karena aku cinta padamu. Itu saja…” ucapnya lagi. 

.

.

Dia selalu memberi alasan-alasan misterius padaku ketika aku bertanya padanya. Dia memang benar-benar istimewa. Pernah juga aku bertanya padanya, kenapa dia masih setia padaku padahal aku ini sering sekali terlibat perkelahian, foya-foya, balapan liar, dan sejenisnya. Berulang kali aku bertanya, kenapa dia bertahan padaku. Kenapa?

.

.

“Kenapa kau masih bertahan denganku? Bukankah 3 tahun sudah cukup bagimu untuk mengenal bagaimana diriku? Aku hanyalah pria tidak berguna, hobi berkelahi, suka menghancurkan perasaan orang tuaku yang memang tidak pernah memberiku kasih sayang, dan aku sama sekali tidak pernah beribadah. Kenapa?”

“Aku bertahan bukan hanya karena aku mencintaimu, tapi karena aku juga punya tugas lain. Aku tidak mau hanya menjadi seorang pendamping atau kekasih, aku juga ingin menjadi seorang partner bagimu. Aku ada untuk selalu mengawasimu agar kau tidak bertindak diluar batas, aku ada disisimu untuk mengingatkanmu agar berubah menjadi lebih baik, aku ada untuk menegurmu ketika kau berbuat salah. Aku ingin membuatmu menjadi lebih baik , itu saja…”

“Kau lihat kan, aku tetap seperti ini. Tidak bisa diatur, aku jahat…”

“Kau tidak jahat. Kau sangat baik. Kau adalah orang baik, hanya saja saat ini kau menyembunyikan pribadi aslimu dengan berubah menjadi berandalan. Sikap aroganmu itu sebenarnya kadarnya hanya sekitar 1 koma sekian persen dibanding kepribadianmu yang lain, aku hanya ingin mengembalikan pribadi aslimu…”

“Ck. Kau bicara apa, Hye Han….” aku menyandarkan tubuhku di bangku disebelahnya, dan lagi-lagi dia tersenyum. Entah apa maksud perkataannya aku tidak mengerti. Yeoja ini selalu bisa mengubah suasana hatiku menjadi lebih damai. Berada bersamanya berlama-lama sangat menyenangkan.
.

.

Dan bagaimana mulanya aku mencintainya? Entahlah… Perasaan ini datang begitu saja. Yeoja ini aneh. Dia bisa merubahku menjadi pribadi yang berbeda ketika bersamanya. Mungkin di luaran sana aku bisa menjadi sangat kasar dan kejam, bahkan ditakuti. Tapi ketika bersamanya, seketika aku bisa menjadi seseorang yang lembut, seseorang yang sangat berbeda dengan kebiasaan asliku selama ini. Aku bahkan bisa sangat rapuh ketika bersamanya. Aku bisa merasa sedih ketika melihatnya menangis, aku bisa merasa sakit ketika ia sakit atau terluka, aku bisa merasa hancur saat melihatnya menangisi jenazah ayahnya. Aku bisa merasakan kesesakan saat dia menjadi yatim piatu. Aku bisa merasakan semua jenis perasaan-perasaan seperti itu, padahal dulu, jauh sebelum aku mengenalnya, aku tidak peduli dengan yang namanya perempuan. Aku suka mempermainkan mereka yang suka padaku, yah seperti itulah.

 

Awalnya aku merasa, ‘ini aneh! Ini tidak benar! Ini diluar batas jangkauan pikiranku! Bagaimana bisa aku takluk pada wanita polos itu!’ Aku pernah berdebat dengan pikiranku sendiri. Aku berusaha untuk mencoba melepasnya perlahan-lahan agar aku tidak menjadi pria rapuh, tapi, aku terlanjur mencintainya dan tidak bisa jauh darinya. Dan sampai saat ini aku masih mencintainya.

 

Oh, aku juga ingin bercerita padamu, dia jugalah yang mengajarkanku berdoa. Dia selalu menasehatiku dengan sabar, dan kesabarannya ini lah yang kurasa, memang berhasil menaklukkan kekejamanku.

.

.

“Sigh!!” aku menghantamkan kepalan tanganku ke cermin di dekatku, dan jadilah cermin itu pecah menjadi serpihan-serpihan tak beraturan. Aku sangat emosi saat itu pada musuhku. Aku benar-benar tidak bisa meredam amarahku. Namun dia memperlakukanku lembut. Ia menangkup wajahku sebentar kemudian memindahkan tangannya ke kepalan tanganku yang sudah berdarah.

“Kau tahu Siwon ah, marah itu sebenarnya merugikan. Kau bisa merasakan kan, ketika kau marah, hatimu yang sakit, bukan mereka. Marah itu melelahkan, napasmu jadi tersengal, kepalamu panas, dan sekarang, lihat, tanganmu juga berdarah. Marah itu selalu berdampak buruk. Berhentilah marah, siwon ah…”

“Tidak semudah itu…” dengusku kesal namun ada nada memelas disana.

“Kalau begitu, berdoalah… Bicara pada Tuhan bahwa kau marah, bicara padaNya kalau kau kesal akan sekelilingmu, katakan semuanya dalam doa. Tanya apa yang ingin kau tanyakan pada Tuhan. Pasti Tuhan akan menjawabmu…” ia kembali tersenyum seperti seorang malaikat. ‘Oh Tuhan, dia benar-benar luar biasa.’ Aku bergumam. Dan entah ada kandungan apa dari senyumnya itu, aku justru mengangguk dan dengan refleks aku duduk dan melipat tanganku, menundukkan kepalaku, memejamkan mataku, dan mulai berdoa saat itu. Untuk pertama kalinya aku berdoa dalam hidupku. Orangtuaku bahkan tidak pernah mengajariku hal ini. Mereka lebih sibuk mencari uang daripada mendidikku.

Aku kemudian mulai melakukan apa yang ia ajarkan, bercerita, bertanya, pada Tuhan, semuanya. Dan kau tahu, aku merasakan kedamaian ketika melakukan hal itu. Terasa seperti ada yang mengangkat beban dalam dadaku satu persatu dan terbang meninggalkanku. Ketika kata ‘amin’ itu terlontar, aku merasa lega kemudian membuka mata dan aku melihat Hye Han tersenyum ke arahku.

“Nyaman kan…” ia mengusap kepalaku. Aku tidak menyahut, tapi justru memeluknya. Pelukan sebagai ucapan terima kasih karena membantuku menenangkan batin. Ya Tuhan aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mengirimiku wanita seperti ini.
.

.

Hye Han adalah wanita yang memiliki prinsip yang kuat. Dia sangat menjaga dirinya dan martabatnya sebagai wanita beriman. Selama kami menjadi sepasang kekasih, dia sama sekali tidak mau berciuman apalagi melakukan hal-hal kotor seperti yang biasa dilakukan oleh pasangan lain. Dia sangat berprinsip dan aku juga sangat menghargai itu. Paling kami hanya berpelukan. Itu saja. Berpelukan layaknya sahabat. Bukan karena pikiran kotor.

Semuanya selalu berjalan dengan baik, sampai suatu ketika, aku terlibat perkelahian dan melakukan taruhan. Aku setuju melakukan balapan mobil dengan taruhan uang. Hye Han melarangku saat itu. Dia saat itu terlihat khawatir karena sudah lama aku tidak melakukan balapan. Dia melarangku dan terus mendesakku untuk mengalah, tapi aku bukan tipikal orang seperti itu. Aku tidak suka terlihat rendah dihadapan musuhku. Aku tetap berkeras melakukan balapan.

.

.

“Mengalah saja Siwon ah… Aku mohon…” Dia mengguncangkan tanganku. Aku menggeleng.

“Perasaanku benar-benar tidak enak. Jebal, hentikan saja taruhan ini.”

“Maaf… Ini yang terakhir. Setelah ini, aku janji tidak akan balapan lagi…” ucapku lembut dan meyakinkannya.

“Kalau kau tidak mau mengalah, aku akan ikut dalam mobilmu.” Sahutnya. Aku menatapnya kaget.

“Tidak boleh! Nanti bisa-bisa kau celaka. Balapan ini mengerikan dan kau sama sekali tidak boleh ikut.” Sahutku tegas sambil menatapnya tajam. Dia juga menatap mataku tajam.

“Kalau kau tahu ini bahaya, kenapa kau memaksakan dirimu untuk tetap bertanding?!” Kali ini aku mendengar nada marah darinya. Kali ini…baru kali ini ia memarahiku. Jika ia marah, pasti dia benar-benar tidak bisa memendam emosinya lagi. Aku tertegun sebentar tapi aku kemudian membulatkan tekadku.

“Ini yang terakhir…” ucapku kemudian melepaskan tangannya. Ia terlihat tidak rela melihatku masuk ke mobil.

“Aku ikut!” teriaknya kemudian menyusulku, dan seketika ia ikut masuk ke mobilku.

“Kenapa!!”

“Perasaanku tidak enak. Aku hanya ingin menemanimu, kalau misalnya ada apa-apa, aku bisa menemanimu nantinya. Kalau kau tetap tidak mau berhenti balapan, aku akan tetap di dalam sini. Aku tidak akan turun sebelum kau turun.” Ucapnya dengan nada tegas. Aku mendesah.

Dia keras kepala. Aku membiarkannya di dalam mobil meski sebenarnya hatiku cemas. Dia sama sekali belum pernah berada dalam mobil balap sebelumnya, aku tidak mau dia shock.

Hening diantara kami. Ditengah keheningan, aku melihat aba-aba sudah diberi, dan jja, balapan dimulai. Aku menginjak pedal gas dan mulai mengendalikan kemudiku dengan apik. Sesekali aku melihat ke arah Hye Han yang terlihat datar sambil melihat ke depan. Aku tidak bisa menebak perasaannya sekarang.

Tapi memang dasar sial. Aku sudah lumayan lama tidak balapan, sampai akhirnya kecelakaan terjadi. Aku tidak bisa mengendalikan mobilku, ditambah lagi jalanan sangat licin karena sebelum balapan, hujan turun sangat deras. Benar-benar suasana malam yang mencekam. Aku sangat kesusahan mengendalikan mobilku, dan akhirnya mobil yang kukemudikan terbalik beberapa kali dan aku terhempas keluar mobil dari kaca jendela. Itu sangat menyakitkan. Tapi aku masih sadarkan diri karena sudah terlempar dari dalam mobil. Kenyataan yang membuatku merasa bersalah adalah Hye Han masih berada di dalam mobil itu. Aku memang terlempar di jalanan, namun mobilku masih berbalik sambil membawa tubuh Hye Han. Aku berusaha berdiri, dan menangis dengan amarahku karena aku bodoh, telah membiarkannya ikut balapan bersamaku.

Mobil itu akhirnya berhenti berbalik dan mobilku sangat hancur. Aku berjalan tertatih-tatih sambil memegang bagian lambungku karena tadi perutku berbenturan dengan aspal. Aku dengan sekuat tenaga berjalan menuju mobilku dan berusaha menyelamatkan Hye Han sebelum mobil itu meledak.

“Hye….Hye Han….!” Aku berteriak memanggilnya ketika melihat tubuhnya berlumuran darah dan sebagian tubuhnya keluar dari jendela mobil. Aku berusaha mengeluarkannya dari mobil itu. Aku terus meneriakkan namanya ditengah-tengah tangisku. Sigh! Tempat ini sangat sepi, dan tidak ada yang bisa memberiku bantuan apalagi itu tengah malam. Aku dengan susah payah merusakkan pintu mobil itu dan menariknya keluar. Masih terdengar ada erangan kecil dari bibirnya. Sambil sesekali matanya berkedip perlahan. Ya Tuhan dia benar-benar dalam kondisi kritis. Darahnya sangat banyak dan aku tidak tahu apakah ia bisa selamat atau tidak. Aku menangis sekencang mungkin sambil menyentuh pipinya.

“Hye Han! Jangan tutup matamu! Jangan tidur! Jebal…” Aku menangis sambil berteriak dan berusaha menjaganya agar tetap terjaga. Sejak tadi matanya terlihat seperti akan tertutup dan aku sangat takut. Karena itulah aku berusaha membuatnya bangun.

“ss…sa….sakit……se…ka…li…” ringisnya dengan bisikan sambil tangannya bergetar. Aku memeluknya.

“Tenanglah, sebentar lagi bantuan pasti datang…” aku menggenggam tangannya dan masih memeluknya dalam pangkuanku. Keringatku bercucuran karena khawatir. Air mataku tidak berhenti mengalir. Darahku juga terus menerus menetes, tapi aku sama sekali tidak mempedulikan hal itu, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya menyelamatkan Hye.

Dengan cepat aku segera menggendongnya dan membawanya pergi dengan kedua kakiku. Aku berjalan tertatih-tatih sambil terus berteriak meminta bantuan. Tapi tidak ada satupun manusia di tempat sepi itu! Aku bahkan berteriak pada Tuhan, “Tuhan tolong… Kirimkan bantuanMu… Tolong… Aku sangat mencintai Hye Han…” Aku berteriak ditengah rasa lelahku saat menggendong Hye. Aku menangis saat melihat dia sudah tidak sadarkan diri di genggamanku. Aku berusaha kembali berjalan meski tempat ramai masih jauh. Aku benar-benar kalap. Aku mengangis terisak melihat Hye dan darahnya yang terus menerus mengalir.

“Hye…. Sayang… Bertahanlah, sebentar lagi kau pasti selamat….”
ucapku sambil menangis. Aku makin lelah, karena aku juga kehilangan banyak darah, ditambah lagi karena menggendong Hye sambil berlari-lari kecil. Aku tidak kuat lagi saat itu, aku pusing dan berhenti berjalan dan terduduk di aspal. Semakin lama pandanganku kabur, namun sepertinya keajaiban Tuhan datang. Aku mendengar seperti ada suara ambulance datang mendekat. Hanya suara itu yang kudengar karena setelah itu pandanganku gelap, dan aku tidak sadarkan diri.

 

* * *

 

Aku ingat, setelah kejadian itu, aku membuka mataku dan untuk pertama kalinya aku berada di satu ruangan rumah sakit. Aku tersadar dan hal pertama yang muncul dipikiranku adalah Hye Han. Bagaimana dia. Entah kekuatan apa yang datang, aku langsung bisa bangkit dan pergi keluar ruangan dan mencari dokter yang ada disana. Dan entah bagaimana bisa, aku bertemu dokter yang menangani Hye Han. Dan aku masih ingat jelas apa yang ia katakan saat itu.

 

“Hye Han… Dia masih hidup… Tuhan sangat baik padanya. Tapi siwon ah, kuharap kau bisa tabah. Hye Han mengalami cidera berat pada beberapa saraf eferentnya. Hal ini membuat kerja ototnya menjadi bermasalah, dan hal buruk itu membuatnya menjadi lumpuh… Dia tidak bisa bicara, kakinya tidak bisa ia gerakkan sendiri, tangannya juga. Mungkin tangannya bisa bergerak, namun hanya perlahan sekali. Beberapa saraf eferentnya terganggu karena kecelakaan itu. Karena itulah ia menjadi lumpuh seperti ini. Tapi, dia masih bisa mendengar dan mengerti apa yang kita katakan, dia juga bisa menelan, dan melihat. Untunglah tidak semua sarafnya terganggu…”

 

Seakan disambar petir, rasanya hampir mati ketika mendengar ucapan dokter itu. Sejak saat itu aku marah pada diriku sendiri karena tidak menuruti kemauan Hye untuk tidak usah balapan. Aku memang bodoh, terlalu egois dan tidak sadar akan bahaya yang akan menghadangku. Aku berjalan gontai dengan kesedihanku dan berjalan menuju ruangan dimana Hye dirawat. Aku tidak kuat kalau semisalnya nanti melihat dia menangis karena ia lumpuh. Aku benar-benar tidak tega. Aku takut ia terluka dan terpukul dengan keadaannya itu. Dengan menguatkan diri, aku masuk perlahan ke ruangannya. Aku berjalan perlahan dan mendekatinya. Ia menyadari keberadaanku sepertinya. Karena ia langsung mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku duduk disamping tempat tidurnya. Aku diam. Aku menatap wajahnya sejenak kemudian kembali diam. Aku merasakan mataku memanas, dan tanpa kusadari, kini aku terisak. Aku menggenggam tangannya erat.

 

“Hye… Maaf…”

 

Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Namun ia justru tersenyum padaku. Dia tersenyum…. Sama sekali tidak ada raut marah diwajahnya. Ya Tuhan… Kenapa wanita ini begitu tegar… Aku tidak kuat melihatnya seperti itu, aku hanya bisa membenamkan kepalaku di sisi tempat tidurnya dan meredam tangisku disana…
[flashback off]

.

.

Yah, itulah alasan orang-orang mengataiku bodoh, yaitu menikahi seorang wanita yang lumpuh, tidak bisa apa-apa, dan hanya bisa duduk di kursi roda. Aku tidak peduli meski mereka mengatakan aku bodoh. Tapi aku tahu kalau keputusanku tidak salah. Aku mencintai Hye, dan karena itulah aku menikahinya. Aku menikahinya memang karena aku ingin, bukan karena kasihan atau apa. Meski sekarang dia lumpuh, dia tidak bisa bercerita lagi atau memberi nasehat padaku seperti dulu, itu tidak masalah. Karena sejak dulu, dia selalu bicara padaku dan memberiku nasehat, jadi aku ingat betul bagaimana suaranya.

 

Sejak kejadian itu, aku memutuskan berhenti melakukan tindakan anarkis. Aku benar-benar meninggalkan dunia kelam itu dan mulai membuka lembaran baru bersama istriku. Yap, setelah ia keluar rumah sakit, aku menikahinya meski ayah dan ibu melarang. Mereka sungguh tidak adil jika menyuruhku meninggalkan Hye padahal Hye berjasa besar dalam memperbaiki moralku. Setelah menikah, aku mencoba mencari pekerjaan dan syukur, uangnya cukup untuk menyewa rumah, membeli bahan makanan, dan obat. Tuhan memang luar biasa. Seberat apapun cobaan yang datang padaku, pasti ada saja jalan yang Ia berikan untuk meringankan bebanku. Lihat, bahkan aku sekarang sudah bisa membelikan rumah untuk kami. Padahal baru dua tahun kami memulai hidup baru.

 

Hye Han. Aku mencintainya dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Aku mencintainya karena dia adalah Hye Han. Aku mencintainya tanpa alasan. Aku sangat beruntung bisa memiliki seorang istri seperti dia. Aku bertekad pada diriku sendiri, bahwa aku akan selalu bersamanya sampai kematian memisahkan kami. Selama aku bernapas, aku akan menjaganya dan merawatnya dengan kasih sayang.

 

“Tring…” Ah, aku mendengar toasterku berbunyi. Kurasa roti panggangku sudah jadi. Haha, aku terlalu banyak bercerita dengan kalian, sampai-sampai aku lupa kalau aku sedang memanggang roti. Aku kemudian menyiapkan sarapan di meja, kemudian menghampiri istriku di kamar. Kurasa dia sudah bangun sekarang.

 

“Sayangku…Selamat pagi…” Aku tersenyum dan mencium keningnya seperti pagi-pagi biasa. Aku menggendongnya dan mendudukkannya di kursi roda. Ada untungnya juga aku bertubuh atletis, dengan begini, aku bisa bertenaga dalam menggendong istriku, dan istriku juga nyaman saat berada dipelukanku. Haha… Ia tersenyum saat aku menggendongnya menuju kursi roda. Senyum itu masih seperti dulu, manis dan menyejukkan.

 

“Kau tahu, pagi ini aku hanya membuat roti bakar dan kopi. Aish, maafkan aku chagi. Hajiman, aku membuatnya dengan cinta, jadi aku tahu kau pasti menyukainya. Saranghae…” ucapku lagi sambil mengecup pipinya setelah sampai di meja makan. Lagi-lagi ia tersenyum. Matanya sangat berbinar saat melihat apa yang kusajikan. Bukan hanya hari ini aku menyiapkan makanan, sudah dua tahun berjalan, tapi dia masih saja terlihat kagum seperti itu. Aku jadi gemas sendiri.

 

Hmm… Yah, pagi bersalju yang manis bersama istriku hari ini. Kami sarapan bersama, menonton tv bersama, dan aku bercerita banyak padanya. Manis bukan…

.

.

Kau tahu, dalam hidup ini, cinta itu tidak perlu banyak syarat. Kau tidak perlu harus mencari seseorang yang kaya raya, populer, atau mungkin sempurna dalam hal fisik atau penampilan. Yang perlu adalah, dalam cinta harus ada ketulusan dan kasih sayang. Tidak lupa juga harus ada kebesaran hati dalam menerima segala kelebihan maupun kekurangan pasanganmu. Cinta itu intinya adalah harus ada kasih di dalamnya. Dengan begitu, cinta itu pasti bisa bertahan lama. Yak! Percayalah padaku, arrasseo

END

[Ending Backsound: You and Me Again – Super Junior]

 

ah, tp sebelumnya saya cuma mau share sedikit, kok tumben cast nya Siwon, alasannya krn Siwon ini identik dgn sifat taat beribadah, baik hati, dan yah begitulah. Saya hanya refleks aja gitu bikin cast Siwon… Hehehe… buat yg udah baca tengkiyu… (review jangan lupa :p) buat typo2 atau istilah yg kurang tepat mohon dimaafkan. Saya  hanyalah penulis yang pas2an dlm hal tulis menulis cerita fiksi… -_-v

 

sekali lagi gomawo… *bow

D.g.D

.

.

choi-si-won-super-junior

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s