FANFICTION – “LOVE THAT I NEED” – Sungmin

LOVE THAT I NEED

...Sungmin...

…Sungmin…

    Tittle: Love That I Need

    Main Cast: Hye Sun, Sungmin

    OC : Hyuk Jae, Min Ju, dll (bisa ditemukan sendiri. Karena author juga belom tau, siapa lagi kira-kira yang masuk jadi OC HAHA)

    Genre: fluff(diusahakan), happiness, romance, love story, fun

    Length: Mungkin ini ff series, atau mungkin two shoot aja, enggak tau, blom bisa dipastiin juga. -_-

    Rate: tidak ada batasan umur

    Author: me (D.g.D)

        Selamat membaca yeorobun. Author sedang berusaha membuat FF yang menarik untuk dibaca… ^^ Mohon partisipasinya dalam memberi review.. .:D *deepBow*

      ——————————————————————————————————–
      ——————————————————————————————————–
      Begin…

      Morning…” Hye Sun menyapa pelanggan yang datang ke kafenya sambil tersenyum lebar. Seperti biasa, setiap pagi ia akan bersikap seperti itu kepada pelanggan, itu sebagai bentuk semangat paginya, katanya… Dan para pelanggan juga sudah mengetahui kebiasaan pagi si pemilik kafe itu.

      “Apa yang kau bawa?” Min Ju melirik kantong kertas besar berwarna coklat di tangan Hye Sun.

      “Balon.”

      “Balon?? Untuk apa?”

      “Untuk kupajang, tentu saja…” Sahut Hye Sun kembali semangat. Yah, yeoja pencinta balon itu memang selalu memiliki segudang ide aneh untuk kafenya. Kemarin ia merangkai manik-manik kemudian menggantungnya di dekat jendela, kemudian sebelum-sebelumnya ia juga pernah memasang board-board kecil berisi tulisan-tulisan penyemangat, tulisan kebahagiaan, dan sebelum-sebelumnya lagi, ia juga pernah membuat topi kertas berjumlah sekitar beberapa ratus dari kertas warna warni, kemudian memakaikannya ke kepala pelanggan saat pelanggan menerima pesanan. Dan sekarang, giliran balon… Memang, Untung saja pelanggan tidak ada yang protes, justru mereka merasa lucu dan menikmati setiap service dari si pemilik kafe. Untung saja.

      “Ya Tuhan…” Dengus Min Ju menggeleng melihat ulah unik sahabatnya itu. Hye Sun hanya nyengir kemudian pergi ke belakang, ingin mulai memompa balon-balonnya. Tapi ada yang berbeda dari Hye Sun yang berhasil ditangkap oleh insting Min Ju.

      “Tidak biasanya kau secerah ini. Kau memang selalu ceria setiap hari, tapi, hari ini rasanya beda…” Min Ju berdiri di dekat Hye Sun yang sedang asyik sendiri dengan sang balon.

      “Tidak biasa bagaimana??”

      “Aku melihat ada gambaran berbeda di wajahmu. Baik, mari kita teliti. Senyum lebar, mata berbinar, pipi bersemu merah, semangat yang berlebihan, balon, dan senandung. Hmm, ya, apa kau baru mengalami sesuatu, Hye-ah??” Min Ju duduk disamping Hye Sun yang masih sibuk memompa balon dengan pompa khusus.

      Anni…” Sahut Hye Sun senyum ke arah Min Ju kemudian kembali fokus pada balonnya. Balon biru lebih tepatnya.

      “Tidak mungkin. Lihat itu, senyummu malah makin lebar. Pagi-pagi sudah membuatku takut saja. Yak, palliwa cerita padaku Hye Sun ah… Pasti ada yang baru terjadi kan… Iya kan…” Min Ju mulai merengek.

      Ck. Cepat kembali ke meja kasir, siapa tahu ada yang memesan…” Hye Sun malah bangkit berdiri dan mendorong-dorong Min Ju ke depan, mengalihkan pembicaraan.

      “Huh, pelit…”

      “Selamat pagi… Buatkan aku cappuchino…” tepat saat Min Ju sudah di meja kasir, datang seorang pelanggan. Seorang pemuda yang baru masuk ke kafe tersebut memesan kepada Min Ju.

      Ne Tuan…” sahut Min Ju kemudian mengetik sesuatu lalu mengeluarkan bill.

      “Ini bill nya tuan, silahkan tunggu sebentar di meja anda..” sahut Min Ju sambil menyerahkan bill tersebut. Namja itu mengangguk kemudian setelah membayar, ia mulai mencari tempat duduk di dekat kaca besar yang menghadap ke jalanan.

      “Hye Sun, cappuchino…”

      Arra…” sahut Hye Sun saat mendengar teriakan Min Ju. Ia kemudian meninggalkan balonnya sebentar lalu menyiapkan secangkir cappuchino khasnya. Ah, kalau urusan cappuchino, serahkan semua pada Hye Sun, ia pakarnya.

      “Diantar kemana?” tanya Hye Sun sambil membawa nampan coklat ditangannya.

      “Meja 2.” Sahut Min Ju sambil menunjuk satu meja dimana namja tadi duduk.

      “Oke.” Hye Sun segera beranjak dari tempatnya berdiri dan pergi menuju tempat dimana pria itu duduk, pria yang sedang duduk menghadap keluar jendela lebar itu. Mungkin sedang menikmati pemandangan manusia yang sedang lalu lalang diluar sana. Mungkin.

      “Ini cappuchino anda tuan…” Sahut Hye Sun dari belakang namja itu, kemudian mulai meletakkan gelas ditangannya ke dekat pemuda itu.

      Gamshamnida…eh?” Pria itu terperanjat.

      “Eh?” Hye Sun juga tidak kalah terperanjat. ‘dia kan…’ Hye Sun mengingat seseorang.

      “Ah, kau nona balon yang tadi kan…” sahut pemuda itu sambil menunjuk Hye Sun. Hye Sun hanya tersenyum malu mendengar ucapan pria itu. Nona balon, ah. Dia jadi malu mengingat kejadian yang baru saja terjadi sekitar lebih kurang 30 menit yang lalu di salah satu toko yang ia kunjungi.
      .
      .
      .
      Tadi pagi, tepatnya saat Hye Sun pergi ke sebuah toko, ada pengalaman menarik yang ia alami. Ia sedang ingin membeli balon, tapi ternyata toko langganannya masih tutup. Ia mengetuk-ngetuk pintu toko tapi tidak dibukakan, sampai akhirnya datang seorang pemuda menghampiri Hye Sun dan menanyai Hye, sedang apa.

      “Aku ingin beli balon…” sahut Hye Sun putus asa seperti anak kecil berumur 5 tahun.😀

      “Eh??” pemuda itu cengo.

      Singkatnya, akhirnya pemuda tadi ‘menyelamatkan’ Hye Sun dengan membukakan pintu toko dan memanggil pamannya yang masih sarapan di dalam toko.

      Ahjussi, pokoknya lain kali ahjussi harus membukakan pintu untukku, aku kan pelanggan tetap.” Sahut Hye Sun complain sambil mempoutkan bibirnya kemudian mengambil beberapa balon dari rak toko itu. Sang paman, si pemilik toko, hanya terkekeh melihat pelanggannya itu. Dan pemuda tadi, pemuda yang ternyata adalah keponakan si paman, hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat tingkah gadis berambut hitam itu. ‘manis…’ gumamnya.

      Hye segera membayar ke kasir kemudian tidak lupa mengucapkan terima kasih pada pemuda yang sudah membantunya tadi.

      Ahgassi, lain kali mampir lagi ne…” sahut pemuda itu sambil tersenyum mengantarkan kepergian Hye Sun.
      .
      .
      .

      “Nona bekerja disini ternyata…” sahut pemuda itu.

      “Ne tuan. Kebetulan aku juga pemilik kafe ini… “ sahut Hye Sun tersenyum.

      “Ah, begitu… Aku tidak tahu karena aku masih baru sampai di kota ini.” Sahut pria itu lagi. Hey, kenapa pria itu malah curhat? Hmm~~

      “Oh begitu…” sahut Hye Sun lagi. Ya, ada apa dengan dua orang ini, kenapa jadi salah tingkah…

      “Oh, untuk pasal yang tadi di toko, sekali lagi gamshamnida tuan, saya jadi tidak enak hati… Sudah merepotkan tuan…” sahut Hye Sun. Pemuda itu hanya tersenyum dan sorot matanya juga sangat hangat. Entah kenapa, Hye Sun merasakan sensasi aneh ditubuhnya saat melihat senyum pria itu. Seperti sedikit hangat, mungkin…

      “Tidak apa-apa… Lagipula dia pamanku, jadi itu tidak masalah…” sahut pria itu lagi sambil masih tersenyum dan menatap Hye Sun dengan fokus.

      “Baiklah, saya kebelakang dulu, tuan…” Hye Sun kemudian berinisiatif mengakhiri perbincangan karena entah mengapa dia merasa jantungnya makin kencang saja detakannya. Ia merasa aneh, mungkin kurang sehat? Atau mungkin dia butuh istirahat. Hari ini aneh, menurut Hye Sun.

      “Oh, aku Sungmin. Lee Sungmin…” Sahut pemuda bermarga Lee itu saat Hye hendak meninggalkan meja Sungmin. Tiba-tiba pria itu kepikiran untuk mengajak Hye berkenalan.

      “Song Hye Sun, imnida…” sahut Hye Sun membungkuk ke arah pemuda tadi. Ia kemudian tersenyum dan kembali ke markasnya, dapur. Masih banyak balon yang belum dipompa, bukan… Hye Sun segera berbalik sambil memegangi daerah dimana jantungnya berasa.

      “Sepertinya aku kurang sehat… Jantungku sedang bermasalah mungkin…” sahutnya berbisik.

      “Hey Hye Sun ah, dia kenalanmu?” Min Ju segera bertanya ketika Hye sudah berada di dekat meja kasir.

      “Baru kenal hari ini…” sahut Hye sambil kembali tersenyum. Senyum itu.

      “Oh…” Min Ju hanya ber “ooo”ria.

      Sementara itu pemuda tadi masih terus memfokuskan pandangannya ke arah Hye sambil tersenyum sampai tubuh Hye Sun benar-benar menghilang. Ia kemudian meneguk cappucchinonya, lalu menuliskan sesuatu di kertas: nice cappuchino ever~❤ Ia kemudian beranjak dan pergi keluar kafe. Berharap, entah siapapun si pembuat cappuchino tadi, membaca pesan ini.

      —————————————————————————————————————–
      —————————————————————————————————————–

      “Akhirnya…” Hye Sun menepuk-nepuk tangannya ketika ia sudah memasang semua balon yang ia pompa tadi. Ia memasang di sudut-sudut kafe, dan di area khusus keluarga, karena biasanya disana banyak orang tua yang membawa anak kecil mereka. ‘Anak kecil kan suka balon’, pikirnya.

      Bebas Meledakkan ^^ Seperti itu kurang lebih ia tuliskan di dekat balon yang dipajangnya. Entah konsep apa lagi ini. Sebenarnya konsep itu tadinya tidak ada, tapi yah, karena perasaannya sedang meledak-ledak hari ini, ia ingin melampiaskannya kepada orang disekitarnya dengan mengizinkan pelanggan untuk meledakkan balon. Supaya euphoria yang ia rasakan makin membahana. -_-

      “Kau ini! Bagaimana kalau kafe jadi berisik karena suara ledakan balon rancanganmu?!” amuk Min Ju sambil menggeleng-geleng bingung. Hye sekali lagi hanya sumringah. Ia masih terlalu bahagia hari ini, terkhususnya karena ada sebuah pesan singkat di dekat gelas pelanggan di meja 2 tadi. Ah kalian pasti tahu maksudnya bukan?😀

      “Na..na…na..na..” Hye Sun bersenandung dan membiarkan sahabatnya itu memelototinya sampai puas.

      “Aku heran dengan bos mu, dia semakin gila saja…” bisik Hye Sun ke salah satu pelayan kafe dan pelayan itu hanya terkikik.

      “Dia kan bos anda juga, ahgassi..” sahut pelayan itu.

      “Oh iya ya… Hahah…” mereka malah menggosip.

      Jangan salahkan Hye Sun yang sedang bersenandung ria, jangan salahkan lingkungan yang berisik karena ledakan balon, jangan salahkan Min Ju yang tidak berhasil mencegah sahabatnya berbuat aneh, salahkanlah pria bermarga Lee tadi, yang sudah membuat Hye Sun dan perasaannya jadi aneh. Pria itu perlu bertanggung jawab sepertinya. Hye Sun sekarang sedang sibuk mengelap setiap meja, merapikan segala pernak pernik dan hiasan di meja pelanggan yang kosong, beres-beres ini itu, semuanya. Ini memang jam-jam sepi bagi kafe, karena di jam-jam seperti ini: 3 sore memang jamnya orang-orang kantoran untuk kembali bekerja. Jadi, semua pegawai kafe memang sedang istirahat sekarang dan ada cukup waktu bagi Hye Sun untuk merapikan kafenya.

      Sementara itu di satu meja, Min Ju sedang asyik mengobrol dengan kekasihnya yang memang biasa mampir setiap hari untuk menemui si pujaan hati. Lee Hyuk Jae atau biasa dipanggil Eunhyuk juga seorang yang berwirausaha, Hyuk Jae memiliki toko roti tidak terlalu jauh jaraknya dari kafe ini. Kalau tidak salah, toko roti miliknya dan kafe milih Kye Sun ini berselang 4 bangunan, jadi memang tidak terlalu jauh jika ingin mampir.

      “Kau lihat kan, sejak tadi dia bersenandung, bernyanyi-nyanyi kecil, dan itu, semangatnya dari pagi sampai sekarang masih stabil…” Min Ju menyampaikan aspirasinya pada sang kekasih.

      “Ah, bukannya Hye Sun ssi memang orang yang seperti itu, chagi…” Hyuk Jae menyahut sambil meminum strawberry milk pesanannya. Ne, Hyuk Jae memang dijuluki memiliki perut anak TK karena suka minum susu stroberi dibanding minuman yang berat-berat seperti kopi atau teh.

      Asih, hari ini dia beda. Kerjanya hanya senyum-senyum. Aku tahu, dia memang orang yang kelewat semangat dalam menjalani hidup(!), tapi, bukankah sangat aneh kalau dia senyum-senyum sepanjang hari tanpa sebab yang jelas…” sahut Min Ju berapi-api. Bukannya ingin bergosip, tapi dia hanya ingin menyembuhkan sahabatnya yang menurutnya terihat seperti kurang sehat hari ini. Tepatnya, kurang waras. -_-

      “Kenapa tidak kau tanya langsung…”

      “Sudah, tapi dia tidak mau cerita padaku. Kau tahu kan, kalau dia ini orangnya tertutup, dia jarang sekali menceritakan rahasianya padaku, seperti sikapmu pada Donghae ssi.”

      Yak, malah bawa-bawa aku…” Hyuk Jae protes.

      “Kan memang begitu, kau jarang bercerita pada sahabatmu Donghae, padahal dia itu sangat terbuka padamu, nah, begitu juga hubunganku dengan uri Hye Sun. Dia tertutup sekali…” Min Ju menghela napas.

      “Ah, geure-geure…”

      “Menurutmu aku harus bagaimana… Aish, aku sangat penasaran dengannya, apa yang membuatnya jadi sebahagia itu.” Sahut Min Ju. “Lihat itu, dia senyum-senyum kan, lihat pandangannya, sangat berbinar-binar…” sahut Min Ju lagi sambil menunjuk Hye Sun yang duduk di dekat meja kasir sendirian. Hyuk Jae dan Min Ju melirik ke arah Hye Sun bersama-sama, dan Hyuk Jae mengangguk-angguk mengiyakan.

      “Mari kita telaah. Menurut teori yang pernah kudapat dari seorang penasehat romantis yang pernah kutemui…”

      Nugu?”

      “Donghae, tentu saja…” sahut Hyuk Jae sambil menunjukkan gummy smile nya. Cute.

      Ne..Ne… lalu?”

      “Ada tanda-tanda yang biasa muncul dari seseorang yang jatuh cinta. Misalnya: wajah cerah, bersemu pink atau mungkin bersemu merah, yang pasti bukan bersemu ungu…”

      Ck, berhenti berbelit-belit, myeolchi!” Min Ju menggetok kening namja ikan teri nya.

      Arrayeo, ini aku mau melanjutkan, cerewet. Wajah cerah, senyum merekah, sorot mata penuh kebahagiaan, suasana hati yang sangat baik, dan bahagia…”

      “Nah, itu! Semua yang kau katakan itu ada padanya hari ini…” Min Ju histeris sendiri. -_-

      “Ah, jinjja? Wah, jangan-jangan….” Hyuk Jae berfikir sejenak. Min Ju juga demikian.

      HYE SUN JATUH CINTA?????” Hyuk Jae dan Min Ju bicara serempak dengan suara tinggi karena terkejut dengan kesimpulan yang baru mereka dapatkan.

      Mwo???” Hye Sun terkejut dan melirik bingung ke arah pasangan sejoli yang tiba-tiba berteriak menyebut namanya yang duduk tidak jauh dari posisinya.

      “APA KALIAN SEDANG MENGGOSIPKAN TENTANGKU HAH!!!” Hye Sun mulai melotot dan menghampiri mereka.

      AnniAnni…” mereka hanya nyengir dan menggeleng-geleng kencang. Mereka tahu, seimut-imutnya Hye Sun, se childishchildishnya Hye Sun, kalau dia marah, dunia serasa jadi neraka. Melihat mata Hye yang sedang marah itu serasa berada dalam mimpi buruk. Seram.

      “Dasar pasangan aneh. Kau, Lee Hyuk Jae, harus membayar susu itu dengan harga 2x lipat karena sudah mengganggu kenyamanan pemilik kafe, yaitu AKU!” sahut Hye Sun mengancam, karena dia tahu, Eunhyukie itu terkenal irit, atau lebih tepatnya pelit.

      “Yak!! Tapi, tapi~~ Tapi Hye Sun-ah…” Hyuk Jae yang mulai khawatir akan isi dompetnya mulai merengek.

      “Tapi yah, karena aku sedang senang, jadi kau kumaafkan…” Tiba-tiba mood Hye Sun berubah lagi, dan ia kembali tersenyum lalu duduk ke posisinya semula. Min Ju dan Hyuk Jae hanya bisa saling pandang, keheranan.
      Deal! Dia sedang berbunga-bunga. Bisa kupastikan, dia jatuh cinta. Aku berani jamin. Kalau kau tidak percaya, mari kita telepon sang penasehat romantis, uri Donghae ssi.” Hyuk Jae meraih ponselnya.

      “Tidak perlu pakai acara telepon-telepon, myeolchi! -_- aku juga yakin dengan statement mu. Tapi, nuguya? Siapa yang membuat sahabtku tercinta jadi gila begitu?”

      “Nah, itu, kita harus cari tahu. Belakangan ini, apa ada namja yang kau tahu dekat dengannya?”

      Anniyo. Tidak ada. Dia itu kelewat polos.”

      “Hm, berarti satu-satunya jalan adalah, memata-matai dia…”

      Yap, geure. Eh, tapi, kenapa kau semangat sekali?”

      “Aku hanya ingin membuatnya memiliki pacar. Selama ini dia tidak pernah pacaran kan? Dulu kan dia ada andil besar dalam membantuku mendapatkanmu, nah jadi tidak ada salahnya kalau sekarang giliran kita yang membantunya.” Hyuk Jae ceramah panjang lebar.

      “Benar, kita yang harus berinisiatif membantunya, karena kalau kita menunggunya meminta bantuan pada kita, itu sama saja omong kosong. Dia sendiri tidak akan pernah meminta bantuan kita karena sangat tertutup. Ck.”

      Jja, baiklah, misi dimulai.”

      Takkk” Mereka tos sebagai tanda kesepakatan. Jarang sekali melihat orang yang pacaran melakukan tos seperti itu. Pasangan ajaib.

      TBC

      ——————————————————————————

      Ah, ya seperti inilah dulu yang bisa author tulis untuk FF ini. Mudah-mudahan bisa bikin readers penasaran HAHA.
      Ini masih awal-awal, untuk kisah Hye Sun dan Sungmin selanjutnya, kita tunggu di chapter selanjutnya ya ^_^

      Annyeong…

      Review jgn lupa loh -_-

      😀

      -D.g.D-

3 pemikiran pada “FANFICTION – “LOVE THAT I NEED” – Sungmin

  1. hallo numpang baca nih ..
    aku kira ini oneshoot eh taunya nyambung emm nyambung ke get merried kah?
    jujur ini ff straight sungmin kedua yang saya baca karena saya selalu baca ff pairing kyumin *gananya hehe
    oiah perkenalkn nma korea aku eun yeon kmu bsa manggil ak yeonnie..maaf so sksd tapi aku seneng kalo udh kenal dengan sesama elf bahkan sungminshipper hehehe..^^v

    okelah kalau begitu aku lanjut mau baca lagi next ff nya yaa..
    salam kenal
    ^^~

    Suka

    • Annyeong, Eun Yeon, bangapseumnida… ^_^
      dirimu line brp kah? biar aku bisa manggil eon, atau dongsaeng atau chingu gitu😀

      utk ff “Love that I Need” ini, ff ini tersendiri kok. ga ada kaitannya ke ff lain atau ff get married. Setiap ff yg ada hubungannya ke ff lain pasti aku kasih tau di awal ff..🙂

      terimakasih sudah baca, terimakasih sudah mampir…

      utk ff get married, seandainya kamu atau readers lain juga kasih komentar pasti rasanya senang sekali…😦

      Suka

      • 91 line hehe udah ‘sedikit’ tua hehe..

        oo gtu iyah aku baru save aja get marriednya belum sempet d baca..
        sekarang baca dehh yaa..^^

        oke aku pasti komen kooo^^

        annyeong…~ ^^

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s