Hope Is A Dream that Doesn’t Sleep

Hope Is A Dream that Doesn’t Sleep
.
.
.
Ahh… Judul lagu yang menarik. Mungkin, lebih tepatnya, menjadi penyemangat diri sendiri.

Ada yang bilang kalau bergumul dengan diri sendiri adalah suatu pekerjaan yang sangat melelahkan. Dan, bingo itu tepat sekali.

Sempat ada keinginan lari dari semuanya, ingin semuanya berakhir, bahkan sempat berpikiran untuk pulang ke rumah Bapa.. Ya ampun, aku terlalu tidak tahu diri, dengan lancangnya meminta untuk pulang tanpa menyelesaikan tugasku terlebih dahulu, yaitu jadi garam dan terang.

Sebenarnya, ini bisa disebut sebagai sifat yang manusiawi, bukan? Ketika beban itu terlalu berat, bukankah kita ingin meletakkannya dan membiarkan bahu kita untuk sedikit lebih relax dan lepas dari rasa lelah saat menopang beban itu. Begitu juga denganku. AKu tidak bisa berlama-lama menopang beban itu di bahuku, aku kelelahan! Dan karena alasan itulah, keinginan untuk lari menjadi muncul. Lari, pergi jauh, kalau perlu terbang entah kemana untuk menyegarkan pikiran sejenak.

Berhari-hari tanpa makan sebutir nasi rasanya itu…. yah, begitulah.
Ditambah lagi beban-beban lainnya yang sedang jadi bintang utama dalam kehidupanku. Aish

Sesak sendiri, dan cemas sendiri. Ya, lebih baik begitu, daripada harus membuat orang lain kesusahan memikirkanku. Aku mulai sedikit lega hati karena beban itu mulai bisa kuatasi sendiri. Batin sudah mulai tenang, namun itu tidak berlangsung lama. Ada lagi pendatang baru yang menemaniku.

Ketika beberapa orang disekitar menyudutkanmu dan menganggap kau itu berbohong dan tidak bisa diharapkan, dianggap mengada-ada, dicurigai tidak mau berkorban lah, apa lah, segala macam, apa kau sanggup berada disana? Yah, aku tahu, pasti jawabannya tidak, dan begitu juga denganku.

Aku mencoba bersabar dan menarik napas panjang, mencoba menyembunyikan rasa miris yang ada dalam batinku. Mulai mengerjakan hal-hal yang bisa kukerjakan sebagai manusia yang bisa dipakai. Mengambil bahan itu, bahan ini, mencampur ini itu, dan sebagainya layaknya praktikan-praktikan lain.

Tapi, bagaimana ? Bagaimana rasanya Ketika kau bertanya dengan kerendahan diri, menanyakan sesuatu hal yang kau tidak tahu kepada orang lain yang kau anggap lebih hebat darimu, justru kau diperlakukan sedikit menyedihkan. Kau mendapatkan jawaban yang singkat tapi menusuk atau bisa dikatakan menohok ulu hatimu begitu nyeri. Saat kau merasakan itu, apakah kau masih bisa mempertahankan senyum paksamu yang sejak tadi sudah kau usahakan untuk terus tersungging?? Tidak…

Aku adalah manusia biasa dan aku sama dengan yang lainnya, aku punya keterbatasan. AKu tidak sekuat orang-orang lainnya.

Ketika aku mendapatkan jawaban yang sedikit ketus dan menusuk itu, yang membuatku seolah-olah menjadi orang yang paling bodoh di antara mahasiswa lain, aku hanya bisa menarik napas panjang. Sesak. Aku menarik napas panjang lagi, memutar bola mataku ke arah lain agar orang lain tidak menyadari raut wajahku yang kurasa sudah berubah drastis. Aku tahu, karena aku tidak sengaja melihat ada yang memperhatikan ke arahku tadi.

Aku mencoba menarik buku penuntun dan membacanya. Ya, itu yang bisa kulakukan, tidak lupa dengan beban tanggung jawab untuk bisa membuat pekerjaan yang benar dalam praktikum.

Sedih…

Ya Tuhan sedih….

Dalam hati aku menjerit sedemikian rupa. Aku benar-benar merasa sesak disini, di jantungku. Otakku blank, aku tidak tahu mau melakukan apa. Pandanganku kosong ke arah buku itu.

Aku mulai duduk ditempatku dan memandang keluar jendela, menatap kosong ke arah manusia, mobil, dan kendaraan lain yang berseliweran di sekitar kampusku, mencoba menenangkan batin sendirian dengan sekuat tenaga, menarik napas berulang-ulang. Tapi tidak mudah menghilangkan rasa tercekat di tenggorokanku. Rasanya sakit.

Ada orang yang mengatakan, manusia punya batas kesabaran, dan begitu lah aku. Maaf, jika aku sama dengan yang lainnya, lemah, ah bahkan aku tahu, kalian pasti merasa kalau aku ini terlalu cengeng.

Usahaku untuk tetap menahan kesedihanku berakhir dengan datangnya si cairan bening perlahan-lahan memenuhi rongga mataku. Aku memutar bola mataku lagi, aneh kan kalau kau menjatuhkannya di tempat umum secara tiba-tiba?

Berulang-ulang aku mengkucek-kucek mata kiriku supaya secara tidak langsung bisa menghapus air itu. Kemudian berganti ke mata kanan, dan melakukan hal yang sama.

Tapi.,..

Ah, datang lagi.

Aku berusaha beranjak dari tempat duduk, mondar-mandir kesana kemari berpura-pura melihat-lihat objek penelitian untuk menenangkan diri.

Aneh. Tetap tidak bisa.

Sesak

Lelah

Tertekan

Perih

Aku hanya bisa menjadi manusia yang berdiam diri agar aku bisa menyembunyikan perasaanku di sekitar orang-orang yang tidak menganggapku.

Terimakasih, Tuhan, setidaknya aku sudah mendapat pengalaman baru, pengalaman bahwa hidup itu tidak lah mudah, dan sebaiknya aku tidak menjadi orang yang mau menyakiti hati orang lain, karena aku tahu bagaimana rasanya jika diperlakukan dengan menyakitkan dan menyedihkan….

dan aku hanya bisa berharap, bahwa suatu hari nanti, aku tidak merasakan perasaan yang seperti ini lagi, bermimpi suatu hari nanti hidupku lebih baik, dan suatu hari nanti bisa menjadi manusia yang tidak menjadi perusak perasaan orang lain. AMEN ^_^


God Bless U all, Saranghaeyo…

d.g.d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s